Cegah Pernikahan Dini, Rafieq Beberkan Dampak Serius bagi Pelajar

0
f7e7528e-9a0a-43f2-953e-868a667e7a3d

Lingkarmetro.com | METRO — Upaya menekan angka pernikahan dini di kalangan pelajar terus digencarkan di Kota Metro. Dalam momentum peringatan Hari Kartini ke-147, Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Metro turun langsung ke sekolah melalui program GOW Goes To School, yang kali ini digelar di SMAN 2 Metro, Kamis (30/4/2026).

Kegiatan tersebut tidak sekadar seremoni tahunan. Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap fenomena pernikahan usia dini, forum ini menjadi ruang edukasi terbuka bagi pelajar untuk memahami dampak nyata yang seringkali luput dari perhatian.

Ketua GOW Kota Metro, Nidia Irine Rafieq, menegaskan bahwa pernikahan dini bukan hanya persoalan budaya atau pilihan pribadi, melainkan isu serius yang berkaitan langsung dengan masa depan generasi muda.

“Pernikahan dini memiliki dampak panjang, terutama bagi pelajar. Bukan hanya menghentikan pendidikan, tetapi juga berpotensi memicu persoalan ekonomi, kesehatan, hingga ketidaksiapan mental dalam membangun rumah tangga,” ujarnya di hadapan ratusan siswa.

Foto : Wakil Walikota Metro, Dr. M. Rafieq Adi Pradana bersama Ketua GOW Kota Metro, Nidia Irine Rafieq saat mensosialisasikan bahaya dan dampak pernikahan dini. (Ist)

Menurutnya, banyak kasus menunjukkan bahwa pelajar yang menikah di usia muda cenderung menghadapi tekanan hidup yang lebih kompleks. Minimnya kesiapan finansial dan emosional kerap berujung pada konflik rumah tangga, bahkan tidak sedikit yang berakhir pada perceraian.

“Ini yang harus kita cegah bersama. Pelajar harus diberikan pemahaman bahwa masa sekolah adalah masa untuk membangun kapasitas diri, bukan terburu-buru mengambil keputusan besar seperti menikah,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Metro, Dr. M. Rafieq Adi Pradana, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, membeberkan secara gamblang dampak pernikahan dini dari berbagai aspek. Ia menekankan bahwa praktik tersebut berpotensi memutus rantai pendidikan dan mempersempit peluang masa depan generasi muda.

“Ketika seorang pelajar memutuskan menikah di usia dini, konsekuensinya tidak sederhana. Pendidikan terhenti, peluang kerja menjadi terbatas, dan risiko kemiskinan meningkat. Ini bukan hanya masalah individu, tapi juga berdampak pada kualitas sumber daya manusia daerah,” jelas Rafieq.

Ia juga menyoroti aspek kesehatan yang sering diabaikan, terutama bagi perempuan. Menurutnya, kehamilan di usia muda memiliki risiko tinggi, baik bagi ibu maupun anak, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap angka stunting dan persoalan kesehatan lainnya.

“Secara fisik dan psikologis, pelajar belum siap. Ini yang harus dipahami bersama. Jangan sampai masa depan dikorbankan karena keputusan yang diambil tanpa pertimbangan matang,” tambahnya.

Wakil Walikota Metro mengajak seluruh elemen, mulai dari sekolah, orang tua, hingga organisasi masyarakat, untuk memperkuat pengawasan dan edukasi terhadap remaja. Ia menilai, pencegahan pernikahan dini tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

Dalam kesempatan itu, Kepala SMAN 2 Metro, Astri Mela Agustin, menyampaikan apresiasi atas kehadiran GOW dan jajaran Pemerintah Kota Metro yang telah memberikan edukasi langsung kepada para siswa.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena memberikan pemahaman yang komprehensif kepada siswa tentang dampak pernikahan dini. Ini penting sebagai bagian dari pembinaan karakter dan perencanaan masa depan mereka,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pihak sekolah selama ini juga terus berupaya melakukan pendekatan preventif melalui bimbingan konseling serta penguatan peran guru dalam mendampingi siswa, khususnya terkait persoalan pergaulan dan pengambilan keputusan hidup.

“Sekolah tidak hanya bertanggung jawab pada aspek akademik, tetapi juga pembentukan pola pikir dan kesiapan mental siswa. Dengan adanya kegiatan seperti ini, kami berharap siswa semakin sadar bahwa pendidikan adalah prioritas utama yang tidak boleh dikorbankan,” tambah Astri.

Dari pantaua Kupastuntas.co, kegiatan sosialisasi ini pun disambut antusias oleh para siswa. Selain pemaparan materi, sesi dialog interaktif membuka ruang bagi pelajar untuk bertanya langsung terkait persoalan yang mereka hadapi, termasuk tekanan sosial, pergaulan, hingga pemahaman tentang masa depan.

Program GOW Goes To School diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan yang mampu membangun kesadaran kolektif di kalangan pelajar. Di tengah tantangan sosial yang kian kompleks, pesan yang disampaikan dalam kegiatan ini menjadi pengingat bahwa masa depan generasi muda tidak boleh dipertaruhkan oleh keputusan yang lahir dari ketidaksiapan. (Red)

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *