Gebyar IKM 2026 Jadi Panggung Kebangkitan Industri Lokal Metro, Kontributor PDRB Capai 16,8 Persen
Lingkarmetro.com | METRO – Di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompetitif, Pemerintah Kota Metro berupaya menunjukkan bahwa kekuatan pembangunan tidak hanya bertumpu pada investasi besar, tetapi juga pada denyut usaha kecil yang tumbuh dari rumah-rumah warga. Semangat itulah yang tergambar dalam kegiatan Diseminasi Publikasi Data Informasi dan Analisa Industri Kabupaten/Kota (Gebyar IKM) yang digelar di Kota Metro, Kamis (11/6/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Metro tersebut bukan sekadar pameran produk, melainkan ruang strategis untuk mempertemukan pelaku Industri Kecil Menengah (IKM), pemerintah, perbankan, dunia pendidikan hingga sektor perdagangan modern dalam satu ekosistem pengembangan ekonomi lokal.
Kepala Disperindag Kota Metro, Ardah menerangkan bahwa kegiatan Diseminasi Publikasi Data Informasi dan Analisa Industri atau Gebyar IKM merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memperkenalkan potensi industri lokal sekaligus memperluas akses pasar bagi para pelaku usaha.
“Gebyar IKM ini menjadi wadah untuk mempromosikan produk-produk industri kecil dan menengah kepada masyarakat luas, memperkuat jejaring bisnis antar pelaku usaha, serta mendorong penggunaan produk lokal sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi Kota Metro,” kata dia kepada awak media, Kamis (11/6/2026).
Menurut Ardah, saat ini Kota Metro memiliki 2.215 industri yang tersebar di berbagai sektor usaha. Dari jumlah tersebut, sebanyak 204 industri telah terdaftar dalam Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), sebuah platform yang menjadi instrumen penting dalam pendataan dan pembinaan industri secara nasional.
Data tersebut menunjukkan bahwa sektor industri bukanlah sektor pelengkap dalam pembangunan daerah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, industri pengolahan bahkan menjadi kontributor terbesar kedua terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Metro dengan sumbangan mencapai 16,8 persen.
“Angka ini membuktikan bahwa industri kecil dan menengah memiliki peran yang sangat penting dalam menopang perekonomian daerah. Karena itu pembinaan dan penguatan kapasitas IKM harus menjadi perhatian bersama,” terangnya.
Sebanyak 150 pelaku IKM turut ambil bagian dalam Gebyar IKM 2026. Mereka menampilkan beragam produk unggulan mulai dari makanan dan minuman olahan seperti tahu, tempe, kopi, susu, jamu instan, roti dan kue, hingga produk kriya dan wastra seperti batik, tapis, gerabah, aneka sulaman serta kerajinan berbahan limbah logam.
Tidak hanya menampilkan produk, pemerintah juga terus mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan daya saing melalui kepemilikan berbagai sertifikasi usaha. Mulai dari Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikat halal, PIRT, BPOM, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), hingga Standar Nasional Indonesia (SNI).
Sementara itu, Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Metro, Windi Kusuma menambahkan bahwa transformasi industri kecil tidak lagi cukup hanya mengandalkan kualitas produk. Pelaku usaha juga harus mampu beradaptasi dengan sistem digital dan regulasi yang berkembang.
Menurutnya, melalui SIINas, pelaku industri dapat mengakses berbagai layanan pemerintah yang telah terintegrasi dengan sistem OSS, sehingga proses perizinan, pendataan hingga pengembangan usaha menjadi lebih mudah dan terukur.
“Pemerintah terus melakukan pendampingan agar pelaku IKM tidak hanya bertahan, tetapi mampu naik kelas. Pendampingan dilakukan mulai dari legalitas usaha, sertifikasi produk, pemasaran hingga akses pembiayaan dan pengadaan barang dan jasa pemerintah,” jelas Windi.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Kota Metro berhasil memfasilitasi empat pelaku IKM memperoleh sertifikat merek melalui Klinik Kekayaan Intelektual Kementerian Perindustrian. Selain itu, produk tungku gerabah dari Sentra IKM Tungku Sejahtera Karangrejo juga berhasil meraih penghargaan nasional dalam program One Village One Product (OVOP) dari Kementerian Perindustrian RI.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa produk lokal Metro memiliki kualitas yang mampu bersaing di tingkat nasional. Namun di balik capaian itu, tantangan tetap ada. Masih banyak pelaku usaha yang belum memahami pentingnya digitalisasi, sertifikasi maupun perlindungan hak kekayaan intelektual sebagai fondasi pengembangan usaha berkelanjutan.
Dalam kesempatan itu, Wali Kota Metro, Bambang Iman Santoso menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Gebyar IKM 2026. Ia menilai kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat kemandirian ekonomi daerah yang bertumpu pada kreativitas dan kerja keras masyarakat.
Menurut Bambang, industri kecil dan menengah merupakan sektor yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat karena mampu menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan keluarga dan menggerakkan ekonomi hingga ke tingkat lingkungan terkecil.
“Pemerintah Kota Metro akan terus memberikan dukungan kepada para pelaku IKM agar semakin berkembang dan mampu menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri. Produk lokal harus menjadi kebanggaan masyarakat Metro,” tandasnya.
Lebih dari sekadar pameran, Gebyar IKM 2026 mengirimkan pesan kuat bahwa masa depan ekonomi Kota Metro tidak hanya dibangun oleh proyek-proyek besar, tetapi juga oleh tangan-tangan kreatif para pelaku usaha kecil yang setiap hari berjuang menghasilkan karya. Dari dapur rumah, bengkel kecil, ruang produksi sederhana hingga sentra kerajinan rakyat, lahir harapan baru bahwa industri lokal dapat menjadi fondasi kemajuan Metro yang lebih mandiri, berdaya saing dan sejahtera. (Red)
![]()
