Kritik Jalan Rusak Warnai HUT Metro ke-89, Wakil Wali Kota Minta Maaf
Lingkarmetro.com | METRO – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-89 Kota Metro pada 9 Juni 2026 seharusnya menjadi momentum penuh sukacita. Namun di balik ucapan selamat, panggung hiburan, dan rangkaian seremoni yang menghiasi hari jadi kota, masih tersimpan harapan sederhana dari masyarakat, yaitu jalan yang layak dilalui dan drainase yang mampu mengalirkan air ketika hujan turun.
Harapan itu bukanlah tuntutan berlebihan. Bagi warga, jalan yang mulus dan saluran air yang berfungsi baik merupakan bentuk kehadiran pemerintah yang paling nyata. Sebab setiap hari masyarakat berhadapan langsung dengan lubang jalan, genangan air, dan berbagai persoalan infrastruktur yang memengaruhi aktivitas mereka.
Di tengah suasana ulang tahun kota tersebut, Wakil Wali Kota Metro, Dr. M. Rafieq Adi Pradana, memilih menyampaikan sesuatu yang jarang terdengar dari seorang pejabat publik. Ia tidak berlindung di balik angka keberhasilan, tidak pula sibuk membela diri. Sebaliknya, ia mengakui bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang belum selesai dan meminta masyarakat memahami keterbatasan yang sedang dihadapi pemerintah daerah.
“Atas nama pribadi dan pemerintah Kota Metro, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Saya memahami betul harapan masyarakat. Ketika warga meminta jalan diperbaiki dan drainase dibenahi, itu bukan keluhan kecil. Itu kebutuhan hidup sehari-hari. Jalan yang rusak membuat orang takut jatuh, biaya kendaraan naik, ekonomi warga terganggu, dan drainase yang buruk membuat warga cemas setiap hujan turun,” kata Rafieq saat diwawancarai awak media usai rapat Paripurna Istimewa di gedung DPRD Kota setempat, Selasa (9/6/2026).
Pernyataan itu seakan menjadi pengakuan bahwa usia 89 tahun Kota Metro belum sepenuhnya mampu menghadirkan rasa nyaman bagi seluruh warganya. Di banyak titik, masyarakat masih harus berjibaku dengan jalan berlubang yang mengancam keselamatan dan saluran air yang tidak mampu menampung debit hujan.
Rafieq tampak tidak ingin menutupi kenyataan tersebut. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh membungkus persoalan dengan kata-kata indah yang justru menjauhkan publik dari fakta. Menurutnya, kejujuran adalah langkah pertama untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat.
“Kalau anggaran terbatas, katakan terbatas. Kalau ada pekerjaan yang belum baik, akui belum baik. Kalau ada perencanaan yang harus dibenahi, benahi. Jangan sampai masyarakat hanya diberi kata sabar, sementara jalan tetap berlubang dan drainase tetap mampet,” ucapnya.
Kalimat itu terdengar seperti permohonan maaf yang tulus. Bukan sekadar kepada warga yang setiap hari melewati jalan rusak, tetapi juga kepada masyarakat yang selama ini menaruh harapan besar kepada pemerintah daerah agar mampu menghadirkan perubahan yang lebih cepat.
Data yang dimiliki pemerintah memang menunjukkan persoalan tersebut bukan sekadar persepsi. Dari total sekitar 413 kilometer panjang jalan di Kota Metro pada tahun 2024, masih terdapat puluhan kilometer jalan dalam kondisi rusak ringan maupun rusak berat. Angka itu menjadi gambaran bahwa pekerjaan memperbaiki infrastruktur dasar masih jauh dari kata selesai.
Namun bagi Rafieq, persoalan tidak berhenti pada statistik. Menurutnya, suara warga yang merasakan langsung kondisi jalan jauh lebih penting daripada sekadar laporan administratif yang tersusun rapi di atas meja birokrasi.
“Jangan sampai laporan mengatakan mantap, tetapi masyarakat merasa belum nyaman. Keduanya harus dipertemukan dengan data yang jujur dan pengecekan lapangan yang sungguh-sungguh,” tegasnya.
Ia mengakui bahwa pemerintah menghadapi banyak tantangan. Dari dalam, keterbatasan ruang fiskal membuat pemerintah harus memilih prioritas pembangunan secara ketat. Belanja rutin yang besar, kebutuhan pelayanan publik yang terus meningkat, hingga kualitas perencanaan yang harus terus diperbaiki menjadi hambatan yang tidak mudah diatasi.
Sementara dari luar, berbagai faktor ikut memperberat situasi. Mulai dari cuaca ekstrem, kenaikan harga material, kendaraan bertonase melebihi kapasitas kemampuan jalan, hingga minimnya dukungan anggaran dari pemerintah yang lebih tinggi. Belum lagi fakta bahwa tidak semua ruas jalan yang dikeluhkan warga berada dalam kewenangan Pemerintah Kota Metro.
Meski demikian, Rafieq menolak menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab. Ia justru menegaskan bahwa pemerintah harus berani mengakui kekurangan dan terus mencari solusi meskipun kemampuan yang dimiliki belum sepenuhnya memadai.
Wakil Walikota Metro tersebut juga menyampaikan pesan yang menyentuh. Menurutnya, HUT Metro ke-89 tidak boleh hanya menjadi perayaan tahunan yang dipenuhi ucapan selamat dan kemeriahan acara. Hari jadi kota harus menjadi momen refleksi untuk melihat kembali apakah pemerintah sudah benar-benar hadir di tengah kebutuhan masyarakat.
“Saya tidak ingin masyarakat hanya mendengar janji. Saya ingin masyarakat melihat proses yang lebih terbuka, prioritas yang lebih jelas, pekerjaan yang lebih berkualitas, dan pemerintah yang lebih berani dikoreksi,” tandasnya.
Di usia ke-89 tahun, Kota Metro memang sedang menghadapi banyak ujian. Namun di tengah kritik dan harapan yang terus mengalir, publik mendengar satu hal yang mungkin lebih berharga daripada sekadar rangkaian pidato perayaan, yaitu seorang wakil wali kota yang memilih mengakui kekurangan, meminta pengertian, dan berjanji untuk terus memperbaiki keadaan.
Sebuah sikap yang mungkin tidak langsung menutup lubang jalan atau melancarkan drainase, tetapi setidaknya menunjukkan bahwa masih ada pejabat yang berani mendengar, memahami, dan memikul beban kekecewaan warganya di hari ulang tahun kota yang seharusnya penuh kegembiraan. (Red)
![]()
