MBG dan Filosofi Mitokondria Untuk Generasi Emas

0
a02ad0e8-01a5-4744-a5af-5705e621c911

Opini oleh: Dr. dr. Wahdi, Sp. OG (K), SH.,MH, Ketua Generasi Emas Indonesia Cemerlang (GEMASIC)

Lingkarmetro.com | METRO – Pembangunan sumber daya manusia (SDM) tidak dimulai di ruang kelas. Ia tidak lahir saat seorang anak mengenakan seragam sekolah, apalagi ketika memasuki dunia kerja. Pembangunan SDM sejatinya dimulai jauh sebelum itu, sejak pertemuan sel spermatozoa dan sel telur, sejak kehidupan masih berupa satu sel yang kemudian membelah dan bertumbuh dalam rahim ibu.

Hari ini, ketika pemerintah menggulirkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai strategi meningkatkan kualitas generasi muda, diskursus publik kerap berhenti pada aspek teknis, yaitu menu, distribusi, anggaran, dan sasaran penerima.

Padahal, jika kita mau berpikir lebih dalam, MBG adalah bagian kecil dari sebuah ekosistem besar bernama siklus kehidupan manusia. Ia harus dipahami bukan sekadar program bantuan, melainkan sebagai intervensi biologis, sosial, dan moral untuk membangun “mitokondria bangsa”.

Dalam biologi, mitokondria dikenal sebagai the powerhouse of the cell alias penghasil energi (ATP) bagi sel. Tanpa mitokondria, sel akan kehilangan daya hidupnya. Namun, jika kita melihatnya bukan hanya sebagai organel, melainkan sebagai simbol nilai, maka kita menemukan cetak biru pembangunan SDM yang berkelanjutan.

Mitokondria adalah metafora karakter yang bekerja diam-diam, tidak terlihat, tetapi menentukan apakah sebuah sel dan pada skala besar, sebuah organisme mampu bertahan, berkembang, atau justru kolaps.

Jika bangsa adalah satu tubuh besar, maka anak-anaknya adalah sel-sel penyusunnya. Tanpa “mitokondria” berupa integritas, akhlak, daya pikir, dan semangat juang dalam setiap individu, tubuh bangsa itu akan lunglai, meski memiliki sumber daya alam yang melimpah.

Konsep pembangunan SDM harus dimulai dari hulu. Secara biologis, kualitas manusia dipengaruhi oleh kualitas gamet yaitu spermatozoa dan sel telur. Secara ekologis, ia dipengaruhi oleh lingkungan sebelum dan selama kehamilan. Secara spiritual, ia dipengaruhi oleh nilai yang menyertai proses tersebut.

Periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sejak konsepsi hingga usia dua tahun adalah golden period pembangunan sistem saraf, metabolisme, dan karakter dasar. Dalam Al-Qur’an disebutkan tentang masa mengandung dan menyapih selama 30 bulan. Artinya, pembangunan manusia unggul bukan hanya soal kecerdasan kognitif, tetapi juga nutrisi yang halalan thayyiban, lingkungan emosional yang sehat, dan pendidikan nilai sejak dini.

Program MBG, jika ingin relevan dengan pembangunan SDM unggul, tidak boleh berhenti pada siswa sekolah. Ia harus terintegrasi dengan kebijakan gizi pranikah, ibu hamil, dan ibu menyusui. Mitokondria tidak dibangun ketika sel sudah kelelahan, ia dibangun sejak awal kehidupan.

Mitokondria memproduksi ATP, energi untuk bekerja. Dalam konteks pembangunan bangsa, ATP adalah kreativitas dan produktivitas. Pendidikan tidak boleh hanya menyuapi informasi. Ia harus melatih anak untuk “memproduksi energi solusi”. Generasi dengan mitokondria mental yang kuat tidak akan bergantung pada bantuan, melainkan mampu mengolah tantangan menjadi inovasi.

Di sinilah kurikulum berbasis karakter menjadi relevan. Karakter bukan pelengkap, tetapi sumber energi moral. Kurikulum harus menanamkan Tafakkarun (refleksi kritis), Ta’qilun (rasionalitas ilmiah), Qalbun salim (hati yang bersih) dan Amalun (kemanfaatan nyata). Tanpa itu, MBG hanya akan menjadi kebijakan karitatif, bukan transformasional.

Secara biologis, mitokondria diwariskan dari ibu. Ini bukan sekadar fakta genetika, ia adalah pesan filosofis tentang pentingnya peran keluarga.

Dalam teori ekologi perkembangan manusia dari Urie Bronfenbrenner, anak berada di pusat sistem yang terdiri dari lingkaran-lingkaran pengaruh, keluarga (mikrosistem), sekolah dan lingkungan (mesosistem), kebijakan publik (eksosistem), hingga budaya dan nilai agama (makrosistem).

Jika keluarga rapuh, maka mikrosistem terguncang. Jika kebijakan publik tidak berpihak pada ketahanan keluarga, maka eksosistem melemah. MBG harus dilihat dalam kerangka ini, sebagai bagian dari intervensi negara untuk memperkuat ekologi tumbuh kembang anak, bukan sekadar memenuhi kalori harian.

Teori endosimbiosis menyebutkan bahwa mitokondria dulunya organisme independen yang kemudian berkolaborasi dengan sel. Mereka bertahan hidup melalui kerja sama.

Pembangunan SDM pun demikian. Tidak ada keberhasilan dalam ruang hampa. Dunia pendidikan harus bersinergi dengan dunia usaha, komunitas agama, media, dan pemerintah. Kolaborasi lintas sektor adalah bentuk “homeostasis sosial” untuk menjaga keseimbangan bangsa.

Mitokondria sensitif terhadap stres seluler, namun ia pula yang mengatur kapan sel harus bertahan atau berhenti demi keselamatan organisme.

Bangsa ini membutuhkan generasi yang resilien dan mampu beradaptasi dengan disrupsi teknologi, krisis iklim, dan ketidakpastian global. Pendidikan karakter harus mengajarkan manajemen stres, etika digital, literasi finansial, dan kepemimpinan berbasis empati. Resiliensi bukan sekadar bertahan, tetapi kemampuan menata ulang energi ketika tekanan datang.

Jika diterjemahkan lebih operasional, filosofi mitokondria dalam pembangunan SDM dapat dirumuskan sebagai ATP, atau Kreativitas dan Produktivitas yang outputnya nyata dan memberi nilai tambah bagi masyarakat. Double Membrane, atau filter Agama dan Budaya yang terbuka pada kemajuan, tetapi tersaring oleh nilai luhur. Serta DNA atau Identitas dan Prinsip, teguh di tengah arus globalisasi.

Kurikulum berbasis karakter dapat mengintegrasikan pendidikan gizi, literasi kesehatan reproduksi, etika publik, serta pembelajaran berbasis proyek sosial yang menumbuhkan kepedulian. Dalam biologi, ketika sel rusak parah, mitokondria memicu apoptosis alias kematian sel terprogram demi keselamatan tubuh.

Dalam tata kelola negara, integritas dan etika adalah “sinyal apoptosis”. Pemerintah harus tahu kapan menghentikan program yang tidak efektif atau berpotensi merusak sistem besar pembangunan SDM. Keberanian menghentikan kesalahan adalah bentuk kecerdasan moral.

Jika MBG tidak tepat sasaran, tidak berbasis data siklus kehidupan, atau sekadar menjadi proyek administratif, maka ia kehilangan esensi.

Pembangunan SDM unggul adalah perjalanan dari satu sel menuju peradaban. Ia dimulai dari kualitas spermatozoa dan sel telur yang sehat, dari rahim yang terjaga nutrisinya, dari keluarga yang menanamkan nilai, dari pendidikan yang membangun daya pikir, hingga negara yang menjaga integritas kebijakannya.

Makanlah yang halal lagi baik bukan hanya dalam arti pangan, tetapi juga dalam arti kebijakan, pendidikan, dan kepemimpinan. Karena bangsa yang kuat bukan hanya yang kaya sumber daya alam, tetapi yang memiliki “mitokondria karakter” menyala dalam setiap anaknya.

Dan di situlah MBG menemukan makna sejatinya, bahwa bukan sekadar memberi makan, tetapi menyalakan energi peradaban. (Red)

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *