Semangat Warga Bumi Pratama Mandira, Jalan Keberkahan di Tengah Keterbatasan

0
05721be5-9d17-4df9-a940-d5aaa1db1fc7

Lingkarmetro.com | OGAN KOMERING ILIR – Langit pagi terpancar cerah ketika rombongan warga mulai berdatangan ke Masjid Agung Al-Fattah di Desa Bumi Pratama Mandira. Di tengah embusan angin perairan Sungai Mesuji, mereka datang dengan penuh semangat.

Ada yang menaiki perahu kecil, ada pula yang menempuh perjalanan panjang menyisir kanal air menggunakan sepeda motor, melewati tambak-tambak udang yang menjadi sumber penghidupan desa mereka.

Semua demi satu tujuan, yaitu menghadiri peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang digelar pada Minggu (2/2/2025). Ini menjadi bukti keteguhan hati masyarakat dalam merajut keberkahan di tengah keterbatasan.

Foto : H. Teguh Prasetyo, S.Sos.I saat mengisi ceramah Masjid Agung Al-fatah, Bumi Pratama Mandira, Infra Modul 1 Blok 2, Kecamatan Sungai Menang, Kabupaten OKI, Sumatera Selatan. (Red)

Tak ada jalan aspal yang mulus, tak ada transportasi mewah, tapi semangat mereka justru semakin membara.

Ketua Panitia, Ali Zainal Abidin, melalui takmir masjid, Sumanto, mengungkapkan rasa syukurnya atas antusiasme warga.

“Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala, hari ini kita bisa bersama-sama memperingati Isra Mi’raj dengan tema Jalan Menuju Keberkahan Dunia Akhirat,” ujarnya.

Tak tanggung-tanggung, panitia mendatangkan penceramah kondang asal Lampung, H. Teguh Prasetyo, yang dikenal dengan tausiyahnya yang menyentuh hati. Dalam ceramahnya, Ustaz Teguh menggambarkan bagaimana perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW menjadi pelajaran bagi kehidupan sehari-hari.

Ia juga menyinggung keteguhan masyarakat Bumi Pratama Mandira yang tetap bersemangat menjalankan ibadah dan merayakan hari-hari besar Islam meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan.

“Lihatlah bagaimana masyarakat di desa ini, meskipun hidup jauh dari hiruk-pikuk kota, mereka tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman. Ini adalah bukti bahwa keberkahan itu bukan hanya soal kemewahan, tapi soal keteguhan hati dalam menjalankan perintah Allah,” ungkap Ustaz Teguh penuh haru.

Bumi Pratama Mandira bukanlah desa yang mudah dijangkau. Berada di perbatasan Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan, wilayah ini lebih akrab dengan perahu dibanding kendaraan darat.

Infrastruktur yang terbatas menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat. Namun, keterbatasan itu tak pernah menjadi alasan untuk menyerah.

Salah seorang warga, Rusman Effendi (53), mengungkapkan bahwa mereka sudah terbiasa menempuh perjalanan panjang demi berkumpul dalam majelis ilmu.

“Kami percaya, semakin besar usaha kita untuk mencari ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah, semakin besar pula keberkahan yang akan diberikan kepada kita,” katanya.

Di tengah kehidupan yang bergantung pada tambak udang dan hasil sungai, warga tetap menyisihkan waktu dan tenaga untuk menyukseskan acara ini. Para ibu-ibu menyiapkan makanan sederhana untuk jamaah, anak-anak ikut serta dalam pembacaan sholawat, dan para pemuda bahu-membahu mengatur tempat acara.

Pria yang sudah bekerja di tambak udang sejak 1995, diawali di Bumi Dipasena tersebut juga menuturkan sejumlah tokoh desa yang turut serta mensukseskan acara tersebut.

Acara yang turut dihadiri oleh pengurus Nahdlatul Ulama (NU) setempat ini pun berjalan dengan penuh khidmat. Rangkaian kegiatan dimulai dengan seremonial pembukaan, dilanjutkan dengan pembacaan sholawat yang menggema di seluruh penjuru masjid.

“Suasana haru menyelimuti jamaah saat ceramah dimulai, mengingatkan mereka akan pentingnya perjalanan spiritual dalam kehidupan,” ungkap Rusman.

Di balik keterbatasan infrastruktur dan akses yang sulit, ada secercah harapan yang terus tumbuh. Masyarakat Bumi Pratama Mandira tidak hanya berharap keberkahan dari segi spiritual, tetapi juga kemajuan bagi desa mereka.

“Kami ingin desa ini semakin maju, jalan diperbaiki, fasilitas ibadah lebih baik, dan anak-anak kami bisa mendapatkan pendidikan agama yang lebih baik,”* tutur Rusman.

Semangat dan kebersamaan yang terpancar dalam peringatan Isra Mi’raj ini menjadi simbol bahwa keterbatasan bukanlah penghalang. Justru di sanalah letak keberkahan, ketika perjuangan dilakukan dengan penuh keikhlasan dan keyakinan.

Bumi Pratama Mandira mungkin berada di pelosok, tetapi cahaya keimanan dan semangat warganya menjadikan desa ini istimewa. Di sini, di tepian Sungai Mesuji, keberkahan ditemukan dalam kesederhanaan, dalam kebersamaan, dan dalam langkah-langkah kecil menuju kebaikan. (Red)

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *