Bikin Terharu, Harapan Warga di Medsos Dijawab Aksi Nyata Pemkot Metro

0
6cc52e83-5bee-43d5-b83b-a3ddfc4ce721

Lingkarmetro.com | METRO – Respons cepat ditunjukkan Pemerintah Kota Metro dalam menindaklanjuti laporan warga yang viral di media sosial (Medsos) terkait kondisi seorang Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) bernama Rokhim di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Metro Selatan.

Kasus ini mencuat setelah unggahan akun Facebook bernama Al Harbi Gemeli P menyebar luas dan mengetuk kepedulian publik. Dalam unggahannya, Al Harbi tidak hanya menyampaikan pesan-pesan moral dan keagamaan tentang pentingnya menjadi manusia yang bermanfaat, tetapi juga menyelipkan realitas sosial yang terjadi di lingkungan sekitar, tentang seorang warga yang membutuhkan uluran tangan.

Unggahan tersebut menjadi alarm sosial yang efektif. Warganet bereaksi, menandai berbagai pihak, mulai dari lembaga zakat, perangkat kelurahan, hingga instansi pemerintah. Desakan moral dari ruang digital itu pun berbuah aksi nyata.

Wakil Wali Kota Metro, M. Rafieq Adi Pradana, saat dikonfirmasi awak media melalui sambungan telepon pada Minggu (13/4/2026), memastikan bahwa pihaknya telah bergerak cepat menindaklanjuti informasi tersebut.

“Begitu menerima laporan, kami langsung instruksikan Dinas Sosial untuk turun tangan, melakukan asesmen, dan memastikan warga yang bersangkutan mendapatkan penanganan yang layak,” kata dia.

Perintah itu langsung dijalankan oleh Dinas Sosial Kota Metro di bawah komando Kepala Dinas, Wahyuningsih. Tim bergerak ke lokasi, melakukan penelusuran data, serta menggali informasi dari keluarga dan lingkungan sekitar.

Foto : Kondisi kediaman ODGJ Rokhim di Rejomulyo, Metro Selatan saat di kunjungi tim dari Pemkot Metro. (Ist)

Dari hasil asesmen, terungkap kisah panjang yang penuh liku dari Rokhim. Ia diketahui merupakan warga Kelurahan Rejomulyo yang telah lama mengalami depresi. Kondisinya bahkan sudah terjadi sejak anak-anaknya masih kecil.

Pada tahun 2017, rumah tangga Rokhim dan istrinya berinisial K, berakhir dengan perceraian. Sejak saat itu, Rokhim sempat menjalani perawatan di sebuah pondok di Martapura, Kabupaten Lampung Utara, selama kurang lebih dua tahun. Namun, ia kemudian melarikan diri dari tempat tersebut.

“Berdasarkan laporan yang kami terima, jejak pak Rokhim sempat hilang hingga akhirnya ditemukan kembali oleh anaknya, Eka Susanti, melalui media sosial. Dengan bantuan aparat kepolisian, pak Rokhim sempat dipulangkan ke keluarga besarnya di Way Abung. Namun, penolakan keluarga membuat Eka harus mengambil keputusan besar untuk menjemput ayahnya dan merawatnya sendiri,” jelas Rafieq.

Sejak tahun 2020, Rokhim dirawat oleh Eka Susanti bersama ibunya, K, dan suami Katmini saat ini, Sugeng. Mereka hidup dalam keterbatasan, merawat Rokhim dalam kondisi yang memprihatinkan tanpa banyak diketahui publik.

Ironisnya, di tengah perjuangan keluarga ini, sistem data sosial belum sepenuhnya berpihak. Meski secara administrasi Rohim tercatat dalam Kartu Keluarga (KK) sebagai warga Rejomulyo, namanya belum masuk dalam Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Akibatnya, akses terhadap bantuan sosial menjadi terhambat.

“Dinas Sosial sudah bergerak cepat melakukan pembenahan administrasi. Sejumlah langkah konkret langsung ditempuh, mulai dari pengurusan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) hingga proses pelaporan kehilangan KTP untuk penerbitan ulang melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil,” papar Wakil Walikota.

“Sinkronisasi data menjadi kunci. Kami pastikan semua berkas segera lengkap agar yang bersangkutan bisa diusulkan masuk DTSEN dan mendapatkan hak bantuan sosial,” tegas Rafieq.

Selain itu, keluarga K sendiri sebenarnya telah menjadi penerima bantuan sosial. Sejak 2018, K tercatat sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM) program sembako. Ia juga sempat menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH), yang kemudian terhenti sebelum kembali aktif pada tahun 2024 dengan komponen disabilitas.

“Sementara atas nama Eka Susanti mulai menerima bantuan sembako sejak 2020/2021 dan PKH pada 2025. Namun, kondisi Rokhim yang belum terdata menunjukkan masih adanya celah dalam sistem pendataan sosial yang perlu diperbaiki,” ungkap Wakil Walikota.

Langkah cepat Pemkot Metro ini menjadi bukti bahwa sinergi antara masyarakat dan pemerintah dapat menghadirkan solusi nyata. Wakil Walikota menilai bahwa Media sosial, dalam konteks ini, tidak sekadar menjadi ruang ekspresi, tetapi juga alat kontrol sosial yang efektif.

“Kasus pak Rokhim di Rejomulyo sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka statistik kemiskinan dan bantuan sosial, terdapat kisah manusia yang membutuhkan kehadiran negara secara nyata. Kini, harapan itu mulai terlihat. Dengan proses administrasi yang tengah dirampungkan, keluarga pak Rokhim berharap ke depan tidak lagi berjalan sendiri dalam sunyi, melainkan didampingi oleh sistem yang benar-benar hadir untuk mereka,” tandasnya.

Di tengah derasnya arus informasi digital, satu unggahan sederhana telah membuka mata banyak pihak, bahwa menjadi manusia yang bermanfaat bukan sekadar pesan moral, tetapi tindakan nyata yang menyentuh kehidupan sesama. (Red)

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *