Napak Tilas Peradaban, SMSI Metro Menyusuri Jejak Lampung di Tanah Banten

0
d2cc5474-ed58-4252-9e52-90cd37e1fcec

Lingkarmetro.com | BANTEN — Di sela padatnya rangkaian kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026, kontingen Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kota Metro memilih berhenti sejenak dari hiruk-pikuk seremoni. Mereka menepi bukan untuk beristirahat, melainkan untuk menelusuri akar sejarah, menyusuri jejak peradaban yang telah lama menghubungkan Lampung dan Banten.

Siang itu, Minggu (8/2/2026), angin laut Anyer berembus tenang. Di antara agenda resmi HPN 2026 yang berlangsung di Provinsi Banten, SMSI Metro memaknai HPN bukan semata perayaan profesi, tetapi momentum refleksi bahwa pers lahir, tumbuh, dan bertugas dalam lintasan sejarah bangsa.

Perjalanan napak tilas dimulai dengan menyusuri pesisir Anyer, jalur laut yang sejak berabad lalu menjadi saksi perlintasan manusia, gagasan, dan peradaban. Anyer bukan hanya ruang wisata, tetapi juga gerbang sejarah yang mempertemukan Kesultanan Banten dengan masyarakat Lampung pada masa lalu.

Tujuan kontingen adalah Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang. Sebuah desa pesisir yang menjadi penanda penting keberadaan masyarakat Lampung di tanah Banten sejak abad ke-16, pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin.

Setibanya di Cikoneng, kontingen SMSI Metro disambut langsung oleh Kepala Desa Cikoneng, Thomas Herry Irawan. Di sela kegiatan HPN 2026 itulah dialog sejarah berlangsung. Perbincangan mengalir hangat, membedah asal-usul masyarakat Lampung yang telah menetap dan berbaur dengan masyarakat setempat selama ratusan tahun.

Thomas Herry Irawan menuturkan bahwa Cikoneng merupakan bukti hidup hubungan sejarah Lampung dan Banten yang tidak pernah terputus. Menurutnya, masyarakat Lampung yang datang ke Cikoneng pada masa lalu bukan hanya membawa ajaran Islam, tetapi juga nilai persaudaraan, budaya, dan tatanan sosial yang hingga kini masih terasa.

“Sejarah masyarakat Lampung di Cikoneng bukan cerita tempelan. Ini adalah bagian dari identitas desa kami. Dari generasi ke generasi, cerita tentang Minak Sengaji dan para leluhur Lampung terus kami jaga dan wariskan,” ujar Herry. .

Ia menambahkan, keberadaan makam Minak Sengaji, masjid tua, serta tradisi lisan yang masih hidup menjadi pengingat bahwa Cikoneng dibangun di atas fondasi sejarah yang kuat. Karena itu, ia mengapresiasi langkah SMSI Metro yang di sela-sela kegiatan HPN 2026 justru memilih menggali dan mengangkat nilai sejarah.

“Kami merasa bangga ketika insan pers datang bukan hanya untuk meliput, tetapi juga untuk belajar dan menghormati sejarah. Ini sejalan dengan semangat menjaga jati diri bangsa,” tambahnya.

Penelusuran sejarah ini menjadi semacam “kelas terbuka” di lapangan, di mana jurnalisme bertemu dengan memori kolektif. Dari cerita yang disampaikan langsung oleh pemerintah desa dan masyarakat setempat, SMSI Metro menggali fakta tentang bagaimana budaya Lampung tetap hidup di Cikoneng mulai dari bahasa yang masih digunakan, simbol adat yang dijaga, serta ikatan persaudaraan yang melampaui batas wilayah.

Dalam setiap kisah, satu nama selalu disebut dengan penuh hormat, yaitu Minak Sengaji. Ia dikenal sebagai tokoh sentral rombongan utusan Lampung yang datang ke Banten. Sosok yang bukan hanya menjadi pemimpin, tetapi juga peletak fondasi persaudaraan Lampung dan Banten yang bertahan lintas zaman.

Penelusuran sejarah di sela HPN 2026 itu kemudian ditutup dengan ziarah ke makam Minak Sengaji. Di bawah langit Anyer yang cerah, rombongan SMSI Metro memanjatkan doa. Suasana hening menyelimuti makam, menghadirkan kesadaran bahwa peradaban besar sering kali dibangun oleh langkah-langkah sunyi para pendahulu.

Ziarah ini menjadi titik refleksi yang kuat. Di tengah perayaan HPN yang identik dengan sorotan kamera dan panggung kehormatan, SMSI Metro justru memilih ruang sunyi untuk mengingat akar sejarah, sebuah sikap yang menegaskan bahwa pers sejati tidak tercerabut dari konteks budaya dan perjalanan bangsa.

Ketua SMSI Kota Metro, Ali Imron Muslim, menyampaikan bahwa penelusuran sejarah ini merupakan bagian dari spirit HPN 2026 itu sendiri. Menurutnya, HPN tidak hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan, tetapi juga momentum bagi insan pers untuk memahami kembali perannya dalam menjaga memori kolektif bangsa.

“Menelusuri jejak Minak Sengaji dan peradaban Lampung di Banten di sela HPN 2026 adalah pengingat bahwa pers punya tanggung jawab sejarah. Kita bukan hanya menulis hari ini, tetapi juga merawat ingatan masa lalu agar tetap hidup dan memberi arah bagi masa depan,” ujar Ali Imron.

Napak tilas di Cikoneng pun berakhir, namun nilai yang dibawa pulang jauh melampaui perjalanan fisik. Dari sela-sela kegiatan HPN 2026, SMSI Metro menemukan makna yang lebih dalam tentang jurnalisme sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara fakta dan nilai, antara peristiwa dan peradaban.

Di Cikoneng, Anyer, SMSI Metro tidak hanya menemukan jejak Lampung di tanah Banten, tetapi juga meneguhkan kembali jati diri pers sebagai penjaga sejarah dan nurani bangsa. (Rilis)

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *