Anna Morinda, Perempuan yang Menyalakan Cahaya dari Metro
Foto : Anna Morinda, Tokoh perempuan menginspirasi dari Kota Metro. (Red)
Lingkarmetro.com | METRO – Pagi di Kota Metro itu terasa teduh. Di salah satu sudut kota, sebuah rumah sederhana tapi elegan tampak ramai oleh pelanggan. Di dalamnya, seorang perempuan tersenyum ramah sambil melayani pembeli. Tangannya lincah, suaranya lembut, dan matanya memancarkan kehangatan yang menenangkan.
Dialah Anna Morinda, seorang pemilik butik emas batangan bernama KiranaGold. Nama Anna yang dulu lebih sering terdengar di ruang sidang DPRD, kini akrab di tengah hiruk pikuk dunia usaha.
Dari panggung politik menuju etalase emas, dari mimbar pidato ke meja pelayanan, perjalanan hidup Anna adalah potret tentang perubahan yang penuh makna. Ia telah melalui berbagai babak kehidupan sebagai politisi, pengusaha, tokoh perempuan, dan organisatoris, namun satu hal tak pernah berubah, dedikasinya untuk membangun manusia dan menjaga nilai.
Anna tidak lahir dari keluarga elite politik atau konglomerat besar. Ia tumbuh dari kehidupan yang sederhana, dalam keluarga yang menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kerja keras.
Sejak muda, Anna sudah terbiasa memimpin organisasi dan aktif dalam kegiatan sosial. Ia bukan tipe yang hanya bicara, melainkan yang selalu turun langsung mendengarkan, memahami, lalu bertindak.
“Perubahan tidak datang dari kekuasaan, tapi dari kesadaran,” kata Anna saat berdiskusi dengan awak media, Jum’at (7/11/2025).
Kesadaran itulah yang membawanya melangkah lebih jauh. Ia memilih politik bukan karena ambisi, tapi karena ingin berbuat sesuatu yang lebih besar. Bagi Anna, politik adalah ruang pengabdian, bukan ajang perebutan kekuasaan.
Di dunia politik yang keras dan sering beraroma kompetisi, Anna hadir dengan gaya yang berbeda. Ia dikenal sebagai politisi berjiwa pendidik, berbicara dengan empati, memimpin dengan logika, dan memutuskan dengan hati.
Sebagai mantan Pimpinan DPRD Kota Metro, Anna membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan bukan soal tampil kuat di depan, tapi bagaimana membawa keseimbangan dan kebijaksanaan dalam setiap kebijakan.
Ia berani bersuara untuk isu-isu yang sering diabaikan, mulai dari pemberdayaan perempuan, pendidikan anak, dan ekonomi keluarga. Tapi ia melakukannya tanpa konfrontasi, melainkan dengan pendekatan humanis.
“Politik itu seperti merawat taman. Kita harus sabar menanam, rajin menyiram, dan ikhlas menunggu hasilnya,” ujarnya.
Perumpamaan itu menggambarkan jiwanya, seorang perempuan yang percaya bahwa kerja baik akan tumbuh pada waktunya.
Setelah masa pengabdian politiknya, Anna tak berhenti. Ia memilih jalan baru dengan berwirausaha.
Keputusan itu sempat membuat banyak orang terkejut, namun pengaruhnya dalam dunia politik tak pernah surut.
Dari ruang rapat dan mikrofon sidang, kini ia berada di balik meja. Tapi bagi Anna, keputusan itu justru memperluas makna hidupnya.
“Dulu saya memperjuangkan ekonomi rakyat lewat kebijakan. Sekarang, saya membantu ekonomi lewat usaha nyata,” ucapnya sambil tersenyum.
Butik emasnya bukan sekadar tempat jual beli. Di sana, Anna sering berbagi cerita, memberi nasihat kepada pelanggan, atau sekadar menyemangati ibu rumah tangga yang ingin memulai bisnis kecil.
Baginya, emas bukan hanya barang mewah, tapi simbol kerja keras dan ketekunan.
Ia juga membimbing banyak perempuan muda, aktivis mahasiswa dan organisatoris muda untuk berani berwirausaha dan mengelola keuangan dengan bijak. Wanita yang akrab disapa Non Anna itu tidak ingin perempuan hanya menjadi penonton dalam roda ekonomi, tapi menjadi penggerak.
Di luar dunia bisnis, Anna tetap aktif dalam berbagai organisasi. Ia dikenal sebagai organisatoris sejati yang piawai memimpin, tapi lebih suka mendengar daripada diperintah.
Dalam forum-forum sosial, ia tampil sebagai pembicara yang penuh wibawa, tapi tak kehilangan kelembutan. Mantan Ketua DPC PDI Perjuangan itu mengajarkan bahwa menjadi pemimpin bukan berarti harus berteriak paling keras, tapi paling bisa diandalkan saat semua diam.
Anna membina banyak komunitas, dari organisasi perempuan, lembaga pendidikan, hingga kelompok komunitas berbasis hobi. Di setiap ruang itu, ia menanamkan satu pesan penting, bahwa perempuan memiliki kekuatan besar jika bersatu dan saling mendukung.
Kini, di usia yang matang, Anna Morinda tetap menjadi sosok yang aktif, hangat, dan inspiratif.
Ia sudah melewati berbagai fase perjuangan, kemenangan, dan bahkan kegagalan. Tapi baginya, semua itu bagian dari pembelajaran.
“Setiap jatuh mengajarkan kita cara berdiri lebih kuat,” katanya dengan tenang.
Di mata masyarakat Metro, Anna bukan sekadar tokoh publik. Ia adalah cermin dari perempuan yang tidak pernah berhenti belajar dan memberi arti.
Ia telah membuktikan bahwa keberhasilan tidak selalu datang dari jabatan tinggi, tetapi dari keikhlasan menjalani setiap peran dengan sepenuh hati.
Ketika malam tiba dan butik emasnya mulai tutup, Anna sering duduk sejenak di kursi pada sudut ruangan. Ia menatap pantulan cahaya dari logam mulia, seperti melihat perjalanan hidupnya sendiri berkilau karena ditempa waktu, berharga karena dijaga dengan kesetiaan.
Bagi Kota Metro, Anna Morinda bukan hanya nama, tapi sebuah inspirasi hidup tentang perjuangan perempuan modern Indonesia. Ia telah menulis kisahnya dengan tinta kesederhanaan, kerja keras, dan cinta yang setiap perempuan mengenalnya tahu, kisah itu tidak akan pernah padam.
“Saya hanya ingin dikenang bukan karena kekuasaan, tapi karena pernah membantu orang lain menemukan kekuatannya sendiri,” tandas Anna Morinda. (Gus)
![]()
