Menulis Fakta dan Mengawal Demokrasi, Kisah Jurnalis Penjaga Nalar Publik

0
db676b7d-c157-452b-990c-f5d52af67feb

Lingkarmetro.com | METRO — Di tengah derasnya arus informasi dan tarik-menarik kepentingan politik di ruang publik, profesi jurnalis kerap berdiri di garis tipis antara fakta dan tekanan. Di satu sisi, mereka dituntut menyampaikan kebenaran kepada masyarakat. Di sisi lain, mereka berhadapan dengan kekuasaan, kepentingan ekonomi, hingga tekanan sosial yang tidak jarang mencoba membelokkan arah pemberitaan.

Dalam lanskap demokrasi lokal yang dinamis, sosok seperti Arby Pratama menjadi potret bagaimana jurnalisme tidak sekadar profesi, melainkan panggilan intelektual untuk menjaga akal sehat publik.

Bagi Arby, menulis berita bukan hanya soal menyusun kata atau mengejar kecepatan informasi. Lebih dari itu, jurnalisme adalah upaya merawat ruang demokrasi agar tetap hidup dengan fakta sebagai fondasi dan keberanian sebagai nafasnya.

Arby Pratama lahir di Antar Brak pada 29 Mei 1993. Metro, sebuah kota kecil yang dikenal sebagai kota pendidikan di Provinsi Lampung itu menjadi saksi perjalanan panjangnya memahami bagaimana kekuasaan, kebijakan publik, dan kehidupan masyarakat saling berkelindan.

Ia menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Program Studi Administrasi Publik, Universitas Dharma Wacana Metro. Dalam waktu relatif singkat, hanya 3 tahun 7 bulan sejak 2022 hingga 2026, ia berhasil menyelesaikan studi sarjananya dengan predikat Coumlade.

Namun perjalanan akademiknya tidak berdiri sendiri. Ia datang ke ruang kuliah bukan sebagai mahasiswa yang kosong pengalaman, melainkan sebagai jurnalis yang telah bertahun-tahun berada di lapangan.

Di bangku kuliah, Arby mempelajari teori-teori kebijakan publik, komunikasi politik, serta tata kelola pemerintahan. Sementara di lapangan, ia melihat langsung bagaimana kebijakan lahir, diperdebatkan, dan berdampak pada masyarakat. Perpaduan antara pengalaman empiris dan pendekatan akademik inilah yang membentuk perspektifnya terhadap demokrasi lokal.

Ketertarikan Arby terhadap dinamika politik lokal tidak hanya berhenti pada peliputan berita. Ia juga mengkajinya secara ilmiah melalui penelitian yang berjudul “Analisis Strategi Kampanye Politik dalam Pilkada Serentak 2024: Studi Kasus Pasangan Bambang–Rafieq di Kota Metro.”

Penelitian tersebut mengulas bagaimana strategi komunikasi politik dibangun dalam kontestasi pemilihan kepala daerah. Ia menelusuri berbagai pendekatan kampanye, mulai dari mobilisasi jaringan politik, komunikasi massa, hingga strategi komunikasi digital yang semakin dominan dalam politik modern.

Bagi Arby, memahami strategi kampanye bukan sekadar membaca kemenangan atau kekalahan kandidat. Lebih dari itu, penelitian tersebut menjadi cara untuk melihat bagaimana demokrasi lokal bekerja, bagaimana kekuasaan diperebutkan, bagaimana narasi politik dibangun, dan bagaimana masyarakat diposisikan dalam proses tersebut.

Sebelum menyelesaikan pendidikan sarjananya, Arby telah lebih dahulu membangun karier panjang di dunia jurnalistik. Ia memulai langkahnya sebagai reporter pembantu di iNewsTV pada periode 2014 hingga 2016. Di sana, ia belajar tentang disiplin berita televisi, mulai dari kecepatan, akurasi, dan kemampuan membaca peristiwa secara cepat.

Perjalanan kariernya kemudian berlanjut ke Liputan6 SCTV pada tahun 2016 hingga 2019. Di media nasional tersebut, ia semakin memperdalam pengalaman peliputan, mulai dari isu sosial, kriminal, hingga dinamika politik yang terjadi di daerah.

Sejak tahun 2019 hingga kini, Arby bergabung dengan Kupas Tuntas Group, sebuah perusahaan media yang bergerak di bidang informasi publik, telekomunikasi, serta pemberitaan investigasi di Lampung.

Di media ini, ia dikenal aktif meliput isu-isu strategis seperti kebijakan pemerintah daerah, dinamika politik lokal, hingga berbagai persoalan sosial yang berkembang di masyarakat. Bagi Arby, lapangan adalah ruang belajar yang tidak pernah selesai.

“Jurnalisme adalah sekolah tanpa dinding. Setiap peristiwa adalah pelajaran,” begitu prinsip yang kerap ia pegang dalam menjalankan profesinya.

Komitmen Arby terhadap profesionalisme jurnalistik juga tercermin dari pencapaian kompetensinya di bidang pers. Melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang diselenggarakan oleh Dewan Pers, ia meraih Kompetensi Wartawan Muda pada tahun 2016, kemudian meningkat menjadi Wartawan Madya pada tahun 2018, dan akhirnya mencapai Kompetensi Wartawan Utama pada tahun 2023.

Capaian tersebut bukan sekadar formalitas administratif. Dalam dunia jurnalistik Indonesia, tingkat kompetensi itu menjadi penanda bahwa seorang wartawan telah melalui proses panjang dalam memahami etika, hukum pers, serta standar profesional dalam pemberitaan.

Di tengah maraknya informasi yang tidak terverifikasi dan maraknya disinformasi di era digital, profesionalisme wartawan menjadi semakin penting. Di luar ruang redaksi, Arby juga dikenal aktif dalam berbagai organisasi profesi, kepemudaan, dan sosial.

Ia pernah menjabat sebagai Ketua Pengurus Daerah Association Motor Community Indonesia (AMCI) Provinsi Lampung periode 2014–2016 dan kemudian dipercaya sebagai Ketua Umum organisasi tersebut secara nasional pada periode 2018–2023.

Dalam dunia jurnalistik, ia aktif di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Metro, baik sebagai Kepala Bidang Pendidikan pada periode 2014–2017 maupun sebagai anggota bidang pendidikan hingga sekarang.

Keterlibatannya juga meluas ke berbagai organisasi lain, seperti Kelompok Sadar Kamtibmas Polres Metro sejak 2019, Wakil Ketua Bidang Telekomunikasi, Media dan Informatika Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Metro periode 2025–2028, serta Kepala Bidang Organisasi, Hukum dan Pengawasan Internal Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kota Metro periode 2026–2031.

Ia juga merupakan bagian dari Ikatan Alumni Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) UNESCO sejak tahun 2016, serta aktif dalam kaderisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Metro. Bagi Arby, organisasi adalah ruang pembelajaran sosial yang mempertemukan berbagai perspektif.

Di tengah perubahan zaman, ketika teknologi digital mengubah cara masyarakat mengonsumsi informasi, peran jurnalis menjadi semakin kompleks. Tidak hanya menyampaikan berita, tetapi juga menjaga integritas fakta di tengah banjir informasi.

Bagi Arby, jurnalisme tidak pernah berdiri netral terhadap kebenaran. Ia berpihak pada fakta, pada transparansi, dan pada kepentingan publik. Karena itulah ia sering menempatkan jurnalisme sebagai bagian dari tanggung jawab moral dalam demokrasi.

Dalam pandangannya, pers memiliki peran sebagai penjaga nalar publik untuk mengawasi kekuasaan, mengkritisi kebijakan, sekaligus membuka ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat.

“Jika fakta berhenti ditulis, maka ruang publik akan dipenuhi oleh propaganda,” begitu keyakinannya.

Di kota kecil seperti Metro, dinamika politik lokal sering kali memiliki dampak besar terhadap kehidupan masyarakat. Setiap kebijakan pemerintah daerah, setiap keputusan politik, hingga setiap konflik sosial, memiliki implikasi langsung terhadap warga.

Melalui liputan, analisis, dan tulisan-tulisannya, Arby berupaya memastikan bahwa masyarakat tetap memiliki akses terhadap informasi yang jujur dan dapat dipertanggungjawabkan. Bagi Arby Pratama, menulis bukan sekadar aktivitas profesional. Menulis adalah cara menjaga demokrasi tetap bernalar dan selama fakta masih bisa ditulis, selama itu pula ruang demokrasi akan tetap hidup. (Red)

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *