Mengulik Rekam Jejak Perwira di Balik Pengungkapan Ari Ubenz, Sang Bos Dept Collector dari Metro
Foto : Kasat Reskrim Polres Metro, IPTU Rizky Dwi Cahyo. (Ist)
Lingkarmetro.com | METRO – Malam itu, ruang kerja Satreskrim Polres Metro masih menyala ketika sebagian kota mulai terlelap ditemani hujan deras yang belum menunjukkan tanda reda. Berkas-berkas perkara menumpuk, telepon berdering silih berganti, dan di balik meja sederhana, seorang perwira muda menatap lembar demi lembar laporan dengan wajah tenang namun tegas.
Namanya IPTU Rizky Dwi Cahyo, belakangan namanya viral menjadi trending topic di Kota Metro. Bukan karena sensasi, bukan karena pencitraan, melainkan karena keberanian.
Rizky adalah perwira di balik pengungkapan kasus sindikat dugaan penggelapan mobil leasing yang menyeret oknum bos Dept Collector berinisial MA alias Ari Ubenz, sosok yang selama ini disebut-sebut memiliki jaringan dan pengaruh kuat kelompok bawah tanah.
Penetapan tersangka itu bukan sekadar proses hukum biasa. Penetapan Ari Ubenz menjadi simbol bahwa negara hadir dan hukum tidak tunduk pada tekanan.
Di balik ketegasannya, IPTU Rizky bukan sosok yang gemar menonjolkan diri. Ia adalah peraih Satya Lencana Ksatria Bhayangkara yang diberikan oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto pada tahun 2024. Sebuah penghormatan yang tidak datang begitu saja. Bagi Rizky, penghargaan bukan puncak melainkan penanda bahwa jalan yang ditempuhnya tidak keliru.
Saat berbincang dengannya, awak media mencoba menggali informasi lebih dalam tentang rekam jejak dirinya selama bertugas di institusi Kepolisian. Perbincangan dengan alumni Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2018 itu diawali dengan kenangan masa-masa dirinya taruna.
“Jadi selama menempuh pendidikan, saya banyak belajar tentang pengabdian. Bagaimana saya harus bisa menyelesaikan kesempatan ini dengan baik, dan kesan yang paling tidak dapat dilupakan adalah kebersamaan. Saya termasuk taruna yang patuh pada aturan, hehehe,” ujarnya sembari bergurau, Selasa (24/2/2026) dini hari.
Di balik tawa ringannya, tersimpan disiplin keras yang menempa mental. Akademi membentuknya bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara karakter tentang bagaimana berdiri tegak saat tekanan datang dari berbagai arah.
Pendidikan formalnya tak berhenti di sana. Ia menyelesaikan S1 di STIK-PTIK pada 2023. Rizky tumbuh bukan karena ambisi pribadi, tetapi karena kesadaran akan tanggung jawab.
Tahun 2021, ia dipercaya menjadi PS Kapolsek Wasior, Polres Teluk Wondama, Polda Papua Barat. Wilayah yang tak mudah, dengan tantangan geografis dan sosial yang kompleks. Saat itu, pandemi COVID-19 masih membayangi. Program vaksinasi menghadapi banyak kendala dan Rizky memilih pendekatan yang berbeda.
“Kami melakukan pendekatan persuasif dengan para kepala suku, para Papa, Mama dan anak. Komunikasi menjadi kunci,” ucap dia.
Hasilnya, Polsek yang ia pimpin menjadi satu-satunya sektor yang meraih capaian vaksinasi 70 persen. Itu bukan sekadar angka, itu adalah bukti kepercayaan. Dirinya belajar satu hal penting di tanah Papua, hukum tanpa empati tidak akan pernah efektif.
Pada 2022, Rizky menjabat PS Kasat Narkoba Polres Manokwari. Hanya dua bulan, tetapi cukup untuk membuktikan kapasitasnya. “Selama dua bulan menjabat di sana, saya berhasil mengungkap kasus narkoba konvensional,” tegasnya.
Kariernya berlanjut ke Bengkulu. Sebagai Kasat Reskrim Polres Lebong (2023), dirinya membongkar kasus korupsi dan sejumlah perkara menonjol. Dan tahun 2024, saat menjabat Kasat Reskrim Polres Bengkulu Utara, dua kasus korupsi berhasil diungkap. Termasuk kasus kekerasan terhadap anak dan perkara-perkara yang sempat menyita perhatian publik.
“Alhamdulillah berhasil kami ungkap,” katanya.
Pada 2025, ia menjabat Kanit I Unit 2 Subbidpaminal Bidpropam Polda Lampung. Posisi yang menuntut ketegasan terhadap internal. Rizky memahami satu hal, institusi yang kuat harus bersih dari dalam. Pengalaman itu membentuknya menjadi perwira yang tidak hanya berani ke luar, tetapi juga tegas ke dalam.
Kini, sebagai Kasat Reskrim Polres Metro, Polda Lampung, ia menghadapi ujian yang berbeda. Kota yang dinamis dengan tekanan publik yang tinggi disertai kasus oknum Dept Collector yang meresahkan masyarakat.
Selama ini, praktik-praktik intimidasi dalam penagihan kendaraan sering kali membuat masyarakat kecil tak berdaya. Ketika kasus dugaan penggelapan mobil leasing mencuat dan menyeret nama besar, publik menunggu, berani atau tidak aparat bertindak. Jawabannya datang dalam bentuk penetapan tersangka terhadap MA alias Ari Ubenz.
“Alhamdulillah selama empat bulan di sini, bersama tim Satreskrim, kami berhasil mengungkap banyak kasus. Yang paling menyita perhatian publik adalah penetapan tersangka MA alias Ari Ubenz,” ujarnya.
Langkah itu bukan tanpa risiko. Namun baginya, hukum tidak boleh ragu. Perwira dengan wawasan dan akar budaya itu dikenal memiliki kemampuan bahasa Inggris.
“Selain bahasa Inggris, saya juga memahami bahasa Indonesia dan bahasa daerah yaitu bahasa Jawa. Hehehe,” katanya berseloroh.
Bagi sebagian orang, itu detail kecil. Namun bagi seorang penyidik, bahasa adalah alat membangun kedekatan dan menggali kebenaran. IPTU Rizky memahami bahwa setiap perkara bukan sekadar berkas. Di dalamnya ada manusia, ada korban dan ada harapan.
Rekam jejaknya dari Papua Barat hingga Bengkulu, dari narkoba hingga korupsi, dari vaksinasi hingga premanisme, menunjukkan satu pola yaitu konsistensi melawan ketidakadilan.
Kasus Ari Ubenz mungkin hanya satu bab dalam kariernya. Namun bagi masyarakat Metro, bab itu terasa penting. IPTU Rizky menjadi penegasan bahwa aparat penegak hukum tidak boleh gentar oleh nama besar, jaringan, atau tekanan.
Di tengah derasnya arus opini dan skeptisisme publik terhadap penegakan hukum, kehadiran figur seperti IPTU Rizky Dwi Cahyo menghadirkan secercah optimisme. Bahwa masih ada perwira yang memilih bekerja dalam diam, bahwa keberanian tidak selalu lantang, tetapi nyata dalam tindakan dan bahwa hukum, ketika ditegakkan dengan integritas, mampu mengembalikan rasa aman.
Dan di ruang kerja yang lampunya kerap menyala hingga larut malam itu, seorang perwira muda terus menapaki jalannya, bukan untuk menjadi viral, melainkan untuk menunaikan sumpahnya. Mengabdi sepenuhnya kepada negara, tanpa kompromi terhadap kejahatan. (Red)
![]()
