Dampak Cuaca Ekstrem Hidrometeorologi, Petani Semangka di Lampung Terancam Gagal Panen

0
e98178e9-2496-473f-be0d-2ece4d01abb2

Lingkarmetro.com | TULANGBAWANG – Cuaca ekstrem hidrometeorologi yang melanda sebagian besar wilayah Lampung sejak awal Februari 2026 mulai menunjukkan dampak serius terhadap sektor pertanian. Sejumlah petani semangka di Desa Lebuh Dalem, Kecamatan Menggala, Kabupaten Tulang Bawang, mengaku terancam gagal panen akibat hujan deras yang disertai angin kencang dan berlangsung hampir tanpa jeda.

Fenomena yang dalam istilah meteorologi disebut sebagai cuaca ekstrem hidrometeorologi, yakni kondisi anomali cuaca berupa hujan lebat, angin kencang, serta peningkatan kelembapan udara dalam waktu relatif panjang menjadi momok bagi para petani yang menggantungkan hidup dari siklus tanam musiman.

Salah seorang petani semangka, Solikhin, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi tanaman yang mulai menunjukkan gejala kerusakan sejak intensitas hujan meningkat.

“Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur sebagian besar wilayah Lampung berdampak pada pertumbuhan tanaman semangka. Saya sudah berkoordinasi dengan teman-teman petani semangka di berbagai wilayah di Lampung, mereka juga mengalami hal yang sama,” kata dia saat diwawancarai di lahan pertanian semangka miliknya, Selasa (17/2/2026).

Menurut Solikhin, dampak paling terlihat adalah munculnya gejala yang dalam istilah lokal petani disebut Njebuk. Kondisi ini ditandai dengan keterlambatan pertumbuhan pada pucuk tanaman yang mengkriting. Dari dampak cuaca ekstrem juga kerap menimbulkan pungi atau jamur kemudian tumbuh bercak pada daun dan menguning.

Foto : Sejumlah petani semangka di Kabupaten Tulang Bawang saat berupaya memulihkan pH tanah menggunakan air kapur. (Ist)

“Kalau bahasa petani semangka di Lampung ini namanya Njebuk. Tanaman seperti stagnan, pucuknya kriting, warnanya pucat. Itu tanda-tanda pertumbuhan terganggu,” jelasnya.

Ia menerangkan, penyebab utama kondisi tersebut bukan serangan hama, melainkan faktor alam akibat cuaca ekstrem yang tidak menentu. Curah hujan tinggi menyebabkan kadar keasaman tanah (pH) menurun drastis. Perubahan pH tanah inilah yang mengganggu penyerapan unsur hara oleh tanaman.

“Ketika pH tanah turun, akar tidak bisa menyerap nutrisi secara maksimal. Dampaknya langsung ke pertumbuhan tanaman,” tambahnya.

Petani pun kini berjibaku memulihkan pH tanah sebagai langkah darurat agar tanaman tetap bisa diselamatkan. Normalnya, pH tanah yang ideal untuk pertumbuhan tanaman semangka berada pada kisaran 6 hingga 7 pH. Kondisi yang dialami petani saat ini, pH tanah hanya pada kisaran 4 hingga 5 pH. Proses perbaikan tersebut membutuhkan waktu antara 7 hingga 10 hari, tergantung kondisi cuaca berikutnya.

Namun persoalannya, siklus tanam semangka terbilang ketat. Sejak masa tanam hingga panen, dibutuhkan waktu paling cepat 60 hari. Jika dalam rentang waktu krusial itu hujan terus mengguyur dengan intensitas tinggi, risiko gagal panen semakin besar.

Petani lainnya, Mispan (52), menyebut kondisi ini sebagai perlombaan dengan waktu. Menurut Mispan, situasi ini semakin mengkhawatirkan karena bertepatan dengan momentum meningkatnya permintaan pasar menjelang Ramadan dan Lebaran 1447 Hijriah. Pada periode tersebut, konsumsi semangka secara nasional biasanya mengalami lonjakan signifikan.

“Kami berjibaku dengan waktu untuk melakukan perbaikan dan pemulihan pH tanah agar keberlangsungan tumbuh kembang tanaman semangka bisa maksimal,” ujarnya.

“Kalau curah hujan tinggi terus menerus, dampaknya bukan hanya penurunan produktivitas, tapi bisa sampai gagal panen total. Padahal permintaan pasar lagi tinggi,” sambungnya.

Ironisnya, di tengah ancaman gagal panen, harga jual semangka di tingkat petani justru mengalami penurunan. Pada awal Februari lalu, harga panen di lahan masih berada di kisaran Rp 9.700 per kilogram. Namun pekan ini, harga turun menjadi sekitar Rp 8.700 per kilogram.

Penurunan harga tersebut diduga dipicu oleh kualitas buah yang menurun akibat gangguan pertumbuhan serta ketidakseragaman ukuran panen. Di sisi lain, biaya produksi tetap tinggi, mulai dari pupuk, obat-obatan, hingga tenaga kerja tambahan untuk pemulihan lahan.

Jika kondisi cuaca ekstrem terus berlanjut, bukan hanya petani yang merugi, tetapi juga potensi pasokan semangka Lampung ke pasar regional dan nasional bisa terganggu. Lampung selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi semangka di Sumatera bagian selatan.

Diketahui, cuaca ekstrem hidrometeorologi merupakan kondisi atmosfer yang ditandai dengan hujan berintensitas lebat hingga sangat lebat, disertai angin kencang dan peningkatan kelembapan udara dalam periode waktu tertentu. Kondisi ini umumnya dipengaruhi oleh dinamika angin monsun dan gangguan sirkulasi atmosfer tropis.

Bagi para petani semangka di Tulang Bawang dan sejumlah wilayah lain di Lampung, harapan kini bergantung pada stabilitas cuaca dalam beberapa pekan ke depan. Jika hujan mereda dan perbaikan pH tanah berhasil dilakukan tepat waktu, sebagian tanaman masih berpeluang diselamatkan. Namun jika tidak, ancaman gagal panen massal bukan lagi sekadar kekhawatiran, melainkan kenyataan pahit yang harus dihadapi. (Red)

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *