Hadiri Data & AI Conference 2026, Rafieq Ungkap Isi Pertemuan dan Rencana di Metro
Lingkarmetro.com | METRO – Wakil Wali Kota Metro, Dr. M. Rafieq Adi Pradana, menghadiri Data and AI Conference 2026 yang digelar Asosiasi Manajemen Data Indonesia (DAMA) Indonesia Jakarta di Hotel Shangri-La Jakarta, Rabu (11/2/2026) kemarin. Hasilnya, konferensi tersebut menekankan bahwa pemanfaatan AI tidak dapat dilepaskan dari tata kelola data yang tertata, terstandar, dan terintegrasi.
Saat dikonfirmasi melalui sambungan Telepon, Rafieq menjelaskan bahwa forum tersebut mempertemukan unsur pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas profesional untuk membahas penguatan fondasi data sebagai prasyarat pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di sektor publik dan dunia usaha.
“Jadi untuk kegiatan kemarin di Jakarta, para narasumber berulang kali menegaskan bahwa AI hanya sebaik kualitas data yang digunakan. Data yang tidak konsisten, tersebar di berbagai aplikasi, tidak memiliki definisi tunggal, serta tidak jelas penanggung jawabnya berisiko menghasilkan keputusan yang keliru dan sulit diaudit,” kata dia saat dikonfirmasi, Kamis (12/2/2026).
“Rangkaian acara dibuka oleh Presiden DAMA Indonesia Jakarta, Alex Budiyanto. Keynote pertama disampaikan Presiden DAMA International, Peter Aiken, yang menyoroti pentingnya manajemen data yang sistematis, mulai dari standardisasi definisi, pengelolaan metadata, pengendalian kualitas data, hingga penelusuran garis keturunan data agar setiap angka yang digunakan dalam pengambilan keputusan dapat ditelusuri dan dipertanggungjawabkan,” sambungnya.

Dirinya juga menceritakan, keynote berikutnya menghadirkan Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, serta Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria.
“Keduanya menekankan pentingnya keselarasan transformasi digital antara pusat dan daerah, arsitektur sistem yang saling terhubung, serta regulasi yang melindungi data warga sekaligus memungkinkan pertukaran data secara aman,” ucapnya.
Dirinya juga menjelaskan bahwa pada sesi panel Data and AI for Public Sector, Direktur Jenderal Teknologi Pemerintah Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Mira Tayyiba, bersama Dr. Vivi Yulaswati dari Bappenas, Setiaji selaku Chief Digital Transformation Office Kementerian Kesehatan, serta Rully Moulany dari Confluent, membahas persoalan integrasi layanan publik.
“Diskusi menyoroti bahwa tantangan utama bukan pada jumlah aplikasi, melainkan pada kesepakatan definisi dan integrasi data. Perbedaan definisi penerima bantuan, ketidakkonsistenan identitas warga, serta tidak terhubungnya data pengaduan dengan tindak lanjut menjadi contoh kendala yang sering terjadi,” bebernya.
“Sesi Data and AI for Financial Sector menghadirkan Agus Edi Siregar dari Otoritas Jasa Keuangan, Dwityapoetra S. Besar dari Lembaga Penjamin Simpanan, Saladin Dharma Nugraha Effendi dari Bank Rakyat Indonesia, Irfan Wahyudin dari PT Pegadaian, serta Keith Sng dari Veeam Software. Diskusi menekankan ketahanan data, manajemen risiko, serta tata kelola yang mencegah penyalahgunaan sistem berbasis AI,” tambahnya.
Tak hanya itu, Rafieq juga mengungkapkan sederet nama lainnya, termasuk Kepala Badan Siber dan Sandi Negara, Letjen TNI (Purn) Nugroho Sulistyo Budi, yang membahas keamanan siber dan pelindungan data. Panel Data Security and Privacy yang melibatkan pejabat BSSN serta Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Alexander Sabar, menggarisbawahi pentingnya pembatasan akses, pencatatan jejak akses, serta budaya kepatuhan dalam pengelolaan data.
“Di sektor kesehatan, panel Data and AI for Health Sector menghadirkan Setiaji, dr. Tommy Dharmawan dari Rumah Sakit Universitas Indonesia, Dwi Martiningsih dari BPJS Kesehatan, serta Joshua Prayogi Angki dari Salesforce. Diskusi menyoroti pentingnya ekosistem data kesehatan yang terintegrasi dari layanan primer hingga rujukan dengan menjaga akurasi dan privasi,” jelasnya.
“Lalu menjelang penutupan, Chrisnawan Anditya dari Kementerian ESDM memaparkan implementasi Satu Data ESDM, dilanjutkan panel bersama Luky A. Yusgiantoro dari SKK Migas dan Tedy Badrujaman dari MIND ID yang membahas penyelarasan definisi, katalog data, kewenangan, dan pengendalian kualitas sebagai bagian dari implementasi satu data sektor energi,” lanjutnya.
Wakil Wali Kota Metro tersebut juga menyatakan bahwa pendekatan konferensi relevan bagi pemerintah daerah. Ia menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Metro akan memperkuat tata kelola data lintas perangkat daerah sebelum mengembangkan pemanfaatan AI.
“Kalau datanya belum rapi, AI itu seperti kendaraan kencang di jalan rusak. Bukannya cepat sampai, malah gampang celaka. Langkah awal adalah menetapkan kejelasan peran dalam pengelolaan data, termasuk penentuan pemilik data, pengelola, penanggung jawab kualitas, serta mekanisme audit. Kalau penanggung jawab tidak jelas, angka akan selalu berbeda-beda dan keputusan jadi mudah diperdebatkan,” tegasnya.
Rafieq menyebut penetapan data master menjadi prioritas, meliputi data penduduk, keluarga, anak usia sekolah, UMKM, penerima bantuan, serta aset daerah, dengan definisi tunggal yang digunakan bersama oleh seluruh perangkat daerah.
Ia juga menyampaikan rencana integrasi layanan prioritas yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, seperti pengaduan publik, perizinan, bantuan sosial, kebersihan dan persampahan, kesehatan, serta pendidikan.
“Banyak keluhan warga sebenarnya sederhana. Mereka sudah lapor, tetapi laporan tidak nyambung ke tindak lanjut. Mereka sudah terdata, tetapi di layanan lain dianggap orang baru. Ini yang harus disambungkan dulu,” ujarnya.
Terkait AI, ia menyatakan penerapan harus dilakukan secara terukur dan bertahap. Contoh pemanfaatan awal yang disebutkan antara lain peringkasan laporan pengaduan untuk mempercepat penugasan, deteksi duplikasi penerima bantuan berbasis data terpadu, prediksi kebutuhan armada pengangkut sampah berdasarkan pola volume dan jadwal, serta analitik untuk memetakan risiko putus sekolah.
“Pentingnya keamanan dan privasi dalam pengelolaan data. Begitu data warga bocor atau disalahgunakan, kepercayaan runtuh. Pemulihannya mahal dan lama. Karena itu keamanan, privasi, dan kepatuhan harus jadi desain dari awal, bukan tempelan belakangan,” katanya lagi.
Rafieq merangkum arah kebijakan yang akan ditempuh Pemkot Metro, yaitu merapikan fondasi tata kelola, standardisasi, serta integrasi layanan prioritas sebelum memilih teknologi AI yang akan digunakan.
“Tahun ini kita rapikan pondasi, tata kelola, standardisasi, dan integrasi layanan prioritas. Setelah itu baru kita pilih AI yang paling tepat, bukan yang paling heboh,” tandasnya. (Adv)
![]()
