Meriahkan HPN 2026, Kontingen SMSI Metro Ikuti Ekspedisi Budaya Baduy
Lingkarmetro.com | BANTEN – Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 tak sekadar dirayakan dengan seremoni dan pidato. Bagi Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kota Metro, HPN menjadi momentum untuk kembali meneguhkan jati diri pers, menyatu dengan masyarakat, merawat kebudayaan, dan belajar langsung dari akar nilai-nilai kearifan lokal bangsa.
Semangat itulah yang membawa kontingen SMSI Kota Metro ikut ambil bagian dalam Ekspedisi Budaya Baduy dan Museum Multatuli di Provinsi Banten. Sebuah perjalanan panjang yang bukan hanya melintasi wilayah geografis, tetapi juga menembus ruang refleksi tentang makna keberadaban, kesederhanaan, dan tanggung jawab pers di tengah perubahan zaman.
Ketua SMSI Kota Metro, Ali Imron Muslim, menyampaikan bahwa keikutsertaan SMSI Metro dalam ekspedisi ini merupakan bentuk komitmen insan pers untuk terus belajar, tidak hanya dari ruang redaksi, tetapi juga dari kebudayaan yang hidup dan dijaga turun-temurun.
“Ekspedisi budaya ke Baduy dan Museum Multatuli ini bukan sekadar perjalanan fisik. Ini adalah perjalanan nilai. Wartawan harus punya kepekaan budaya dan keberanian untuk bercermin dari kehidupan masyarakat adat yang menjunjung tinggi kejujuran, konsistensi, dan harmoni dengan alam,” ujar Ali Imron dalam keterangan persnya, Jum’at (6/2/2026).
Ekspedisi budaya ini menyusuri lima wilayah penting di Banten, yakni Serang, Pandeglang, Lebak, Anyer, dan Cilegon. Setiap wilayah menghadirkan cerita, sejarah, dan denyut kebudayaan yang berbeda, membentuk mozaik kebangsaan yang kaya dan penuh makna.
Di Lebak, para peserta diajak menyelami kehidupan masyarakat Baduy, komunitas adat yang teguh menjaga tradisi dan menolak hiruk-pikuk modernitas. Kesederhanaan hidup, keteguhan memegang adat, serta kejujuran yang nyaris langka di dunia hari ini, menjadi pelajaran berharga bagi para jurnalis yang terbiasa bergulat dengan kecepatan informasi.
Sementara itu, kunjungan ke Museum Multatuli menghadirkan refleksi mendalam tentang sejarah, kolonialisme, dan peran tulisan dalam menggugat ketidakadilan. Nama Multatuli, lewat karyanya Max Havelaar, menjadi pengingat bahwa kata-kata memiliki daya ubah yang dahsyat, dan pers sejak dulu hingga kini, memikul tanggung jawab moral untuk berpihak pada kebenaran.
Menariknya, ekspedisi budaya ini tidak hanya diikuti oleh SMSI Metro. Puluhan peserta dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia turut ambil bagian, menjadikan kegiatan ini sebagai ruang perjumpaan lintas daerah, lintas budaya, dan lintas perspektif. Di sanalah gagasan-gagasan bertemu, pengalaman dibagikan, dan semangat pers kebangsaan dirajut kembali.
Ali Imron menegaskan, di tengah tantangan dunia pers yang kian kompleks mulai dari disrupsi digital, banjir informasi, hingga krisis kepercayaan publik, wartawan dituntut untuk kembali pada nilai dasar profesi yaitu integritas, empati, dan keberpihakan pada kemanusiaan.
“Baduy mengajarkan kita tentang konsistensi dan kejujuran. Museum Multatuli mengingatkan kita tentang keberanian bersuara. Dua hal ini relevan dengan semangat HPN 2026 dan harus terus hidup dalam kerja-kerja jurnalistik,” tambahnya.
Bagi SMSI Kota Metro, ekspedisi ini menjadi simbol bahwa pers tidak boleh tercerabut dari akar sosial dan budaya. Wartawan bukan sekadar penyampai informasi, tetapi juga penjaga ingatan kolektif dan penutur kisah-kisah yang membentuk jati diri bangsa.
Di tengah langkah kaki menyusuri tanah Banten, kontingen SMSI Metro membawa catatan lebih dari sekadar dokumentasi. Mereka membawa pulang nilai, inspirasi, dan keyakinan bahwa pers yang kuat adalah pers yang memahami rakyatnya dari pusat kota hingga pelosok adat.
HPN 2026 pun dirayakan dengan cara yang berbeda dan bermakna. Dari Baduy, pers kembali belajar tentang arti setia pada prinsip. Dari Multatuli, pers kembali diingatkan tentang keberanian menulis demi keadilan. (Rls)
![]()
